Nafs


Ketika suatu saat manusia mati, semua para ahli menyatakan manusia itu mati. Tetapi Al-Qur’an menginformasikan bahwa mati itu hanya nafsnya. Hal ini diungkapkan pada surat Al-Anbiya ayat 35 dan Surat Al-Ankabut ayat 57, Surat Ali-Imran ayat 185, yang menyatakan “kullunafsin dzaiqatul maut” setiap jiwa pasti ajal yang telah ditentukan (Surat Ali-Imran ayat 145). Jika jiwanya mati, ruhnya kemana. Hadist menginformasikan bahwa ruh manusia menuju alam barzah.

Al-Qur’an menjelaskan bahwa Nafs terdiri dari 3 jenis, masing-masing diungkapkan pada surat:

1.      Nafs Al-amarah (Surat Yusuf ayat 53) yang menyatakan “Aku tidak brrmaksud membersihkan jiwaku, karena sesungguhnya nafs marah mendorong kepada kejahatan, kecuali yang diberi rahmat Tuhnku”. Ungkapan ini sevara tegas memberikan pengertian bahwa nafs amarah itu mendorong kearah kejahatan.

2.      Nafs Al-lawwamah, (Surat Al-Qiyamah ayat 1-3) yang menyatakan: “Aku bersumpah dengan hati qiyamah,    dan aku bersumpah dengan nafs Al-lawwamah, apakah manusia mengira bhawa kami tidak akan mengumpulkan tuang-belulangnya?”. Ungkapan ayat ini tidak memberi petunjuk tentang apa pengertian nafs lawwamah ini.

3.      Nafs Al-Muthmainnah (Surat Al-Fajr ayat 27-30) yang menyatakan: “ Hai nafs muthmainnah, kembalilah kepada Tuhanmu dengan senang (radhiah), dan (mardhiah), masuklah dalam kelompok hambaku, dan masuklah ke dalam kebahagiaan (jannah) bersamaku”.

Ilmu pengetahuan merumuskan bahwa manusia sejak lahir membawa 3 insting yaitu: pertama, insting seks yang mengarak kepada kepuaasan dan kenikmatan, kedua, insting property yang mengarah pada kebendaan dan kekuasaan, ketiga, insting religi yang mengarah kepada kesucian dan kebersihan. Rumusan ini sepertinya ada kesamaan disamping juga ada perbedaan, dengan rumusan Al-Qur’an. Dari 3 macam bentuk jiwa yang terdapat pada diri manusia itu selalu terjadi pertarungan daripada ketiganya.

Yang satu mendorong manusia untuk berbuat jahat, yang lain mendorong mannusai cinta dunia dan acuh tak acuh dengan kehidupan akhirat, sementara yang satu lagi justru mengajak manusia itu untuk hidup dijalan Allah. Yang terakhir inilah merupakan bentuk jiwa yang membuat hidup senang dan tenang dalam kebahagiaan di jalan Allah