Manusia dan Agama


“A person is an individual with unique identity”

(Seseorang merupakan pribadi dengan identitas yang unik)

Demikian ungkapan yang dinyatakan oleh Jeffreys NVC dalam bukunya Personal Values in the Modern World. Sukanto dalam bukunya Nafsiologi yang mengutip ucapan Alexis Carrel, menyatakan bahwa ilmu tentang manusia merupakan ilmu pengetahuan yang paling sukit diantara ilmu pengetahuan yang ada.

Pernyataan tersebut memang Unik, karena memang para pakar belum mampu memecahkan rahasia pribadi manusia secara menyeluruh. Ilmu pengetahuan hanya mampu menyatakan secara sederhana bahwa manusia terdiri dari jasmani dan rohani. Jasmani dapat dikaji dalam ilmu faal, biologi atau anatomi, karena ia merupakan benda nyata sehingga dapat ditelusuri dengan nteliti. Tetapi ketika mencoba menelusuri yang bersifat rohani, ia terbentur. Maksimal yang dapat dipelajari hanyalah berdasarkan gejala-gejala yang berwujud pada sikap dan tingkah laku, yang kemudian disebut dengan ilmu jiwa atau psychology atau ilmu nafs

Kemudian timbul persoalan lanjutan yang berupa pertanyaan, “apakaha perbedaan antara roh dan jiwa, “mengapa manusia dapat berpikir sedangkan binatang tidak, dan sedangkan juga keduanya punya hati dan otak”, “kapan masuknya roh kedalam tubuh seeorang”, ilmu pengetahuan hingga kini belum dapat menjawab dan memecahkan teka-teki atau masalah ini.

Allah selaku Pencipta alam semesta dan manusia telah memberikan informasi lewat wahyu Al-Qur’an dan realita factual yang nampak pada diri manusia. Informasi itu diberiNya melauli ayat-ayat tersebar tidak tertumpuk pada satu ayat atau satu surat. Hal ini dilakukanNya agar manusia berusaha mencari, memikirkan, meneliti, dan menganalisanya. Tidak menerima mentah demikian saja. Untuk mampu memutuskannya, diperlukan suatu penelitian Al-Qur’an dan sunnah Rasul secara analitis mendalam. Kemudian dilanjutkan, melakukan penelitian laboratorium sebagai perbandingan, untuk merumuskan mana yang benar bersumber dari konsep awal dari Allah dan mana yang telah mendapat pengaruh lingkungan.

Hasil penelitian Al-Qur’an yang penulis lakukan, dapat ditarik kesimpulan bahwa manusia terdiri dari unsure-unsur sebagai berikut:

  1. Jasad, yang diungkapkan dalam Al-Qur’an dan kurang lebih 6 ayat.
  2. Ruh, disebutkan dalam Al-Qur’an dan kurang lebih terdapat 21 ayat.
  3. Nafs, yang dinyatakan dalam Al-Qur’an kurang lebih terdapat 140 ayat.
  4. Qalb, yang disebut dala Al-Qur’an kurang lebih ada 125 ayat.
  5. Fikr, yang dinyatakan dala Al-Qur’an kurang lebih terdapat 17 ayat.
  6.  Aqal, sama dengan Fikr dinyatakan dalam Al-Qur’an dalam bentuk kata kerja kurang lebih 46 ayat.

Kajian seperti itu tidak ditemukan pada buku pegangan agama-agama lain. Dengan demikian Al-Qur’an memberikan bahasan yang lebih comprehensive tentang manusia dan sekaligus menjawab pertanyaan mengapa manusia perlu beragama dan memilih islam sebagai agamanya.