Jasad


Jasad merupakan bnetuk lahiriah manusia, yang dalam Al-Qur’an dinyatakan diciptakan dari tanah. Penci[taan dari tanah diungkapkan lebih dari lanjut melalui proses yang dimulai dari sari pati makanan, disimpan dalam tubuh sampai sebagiannya menjadi sperma atau ovum (sel telur), yang keluar dari tulang sulbi (laki-laki) dan tulang depan (tsaraib) perempuan (a-Thariq: 5-7). Sperma dan ovum bersatu dan bergantung dalam rahim kandungan seorang ibu (alaqah), kemudian menjadi yang dililiti daging dan kemudian diisi tulang dan dibalut lagi dengan daging. Setelah ia berumur kurang lebih 9 (Sembilan) bulan, ia lahir ke bumi dengan dorongan suatu roh ibu, menjadikan ia seorang anak manusia.

Meskipun wujudnya suatu jasad yang berasal dari sari pati makanan, nilai-nilai kejiwaan untuk terbentuknya jasad ini harus diperhatikan. Untuk dapat mewujudkan sperma dan ovum berkualitas tinggi, baik dari segi materinya maupun nilainya, Al-Qur’an mengharapkan agar manusia selalu memakan makanan yang halalan thayyibah. (Surat Al-baqarah: 168, Surat Al-Maidah 88 dan Surat Al-Anfal: 69). Halal bermakna suci dan berkualitas dari segi nilai Allah.

Gambaran perincian rezeki yang halal dan thayyib itu, dapat dilukiskan sebagai satu lingkaran dalam gambaran dibawah ini:

Keterangan

  1. Merupakan wilayah yang diperintahkan agar terwujud manusia yang bermutu, baik dari sisi Allah maupun dari sisi kemanusiaan (Halalan thayyiban)
  2. Merupakan wilayah yang tidak diridhoi Allah, namun mungkin bermutu dari sisi manusia (Haraman thayyiban)
  3. Merupakan wilayah yang perlu kehati-hatian, karena ia dapat menyeret ke salah satu wilayah A atau B atau D atau E
  4. Merupakan wilayah yang dalam perolehannya
  5. Merupakan wilayah yang dalam perolehannya sudah sesuai dengan petunjuk Allah, tetapi dari sisi kemanusiaan tidak bermutu (Halalan Sayyian)