Qabil dan Habil


Menurut ajaran Islam, Al-Qur’an adalah sebagai sumber filsafat sejarah kemsyarakatan. Sejarah adalah aliran peristiwa yang saling berkaitan jadi lebih tepatnya juga Sejarah ialah gerakan umat manusia sepanjang alur waktu. Manusia itu sendiri adalah sesosok makhluk yang paling sempurna. Sedangkan manusia, menurut antropologi adalah wakil Allah di dunia ini, dan merupakan khalifah-Nya di bumi.

Bila membahas tentang manusia tentu jelas bermula dari kisah Adam, karena kisah Adam juga kisah manusia, manusia dalam makna nyata. Manusia bermula dengan pertarungan antara Allah dan Syaitan dalam diri Adam, Tetapi dimanakah bermula sejarah? Ialah pertarungan antara Habil dan Qabil.

Pertarungan Habil dan Qabil adalah masalah awal sejarah kemsyarakatan. Kedua putra Adam adalah manusia biasa dan wajar, tetapi mereka saling bermusuhan. Yang seorang membunuh yang lain, maka bermulalah sejarah kemanusiaan. Pertarungan antara kedua putra Adam berlangsung dalam kehidupan yang lebih lahiriah. Karena itu kisah Habil dan Qabil merupakan sumber filsafat kita tentang manusia.

Sumber konflik antara Qabil dan Habil adalah sebagai berikut. Qabil lebih menaruh hati kepada saudaranya yang telah dipertunangkan dengan Habil dari pada tunangannya sendiri. Dia berkeras untuk merebutnya dan menuntut agar pertunangan yang telah di setujui Adam itu di batalkan. Kedua bersaudara itu lalu menghadap kepada Adam yang menyarankan mereka agar mempersembahkan kurban kepada Allah. Siapa yang diterima kurbannya ialah yang mendapat sang putri, sedangkan yang di tolak harus menerima kekalahannya. Qabil mencoba berbuat licik. Kurban yang disajikannya berwujud segenggam hasil panennya yang telah membusuk. Tentu saja kurbannya tidak diterima. Karena Qabil lebih menuruti gejolak nafsunya, secara keji dia membunuh Habil dengan memenggal kepala saudaranya itu, Habil yang tidak menuntut dan mengharapkan apa-apa dari Qabil, namun untuk kurbannya kepada Allah Habil mempersembahkan yang terbaik dan paling berharga, seekor unta muda, pilihan dan kesayangannya. Wajarlah Allah berkenan menerimanya.

Habil mewakili system penggembalaan, suatu sosialisme primitive sebelum mengenal ada system milik. sedangkan Qabil mewakili system pertanian yang sudah tertanamnya system milik pribadi. Sebelumnya umat manusia tidak mengenal system perseorangan. Sesudah itu mulailah pertarungan abadi, sehingga seluruh sejarah merupakan arena pertarungan kelompok Qabil si pembunuh dan kelompok Habil yang menjadi korbannya. Atau dengan kata lain antara penguasa dan yang dikuasai. Habil si penggembala di bunuh oleh Qabil sang tuan tanah. Berakhirlah periode system milik bersama atas sumber-sumber produksi. Zaman penggembalaan, perburuan dan perikanan – semangat persaudaraan dan kejujuran, digantikan dengan oleh zaman pertanian dan system milik pribadi, yang disertai tipu daya pelanggaran hak orang lain. Habil lenyap dan Qabil tampil kepermukaan sejarah, sampai saat ini.

Umat manusia yang tadinya menikmati alam bebas, damai, tenang dan penuh gairah, telah pecah menjadi dua kelompok yang saling baku hantam. Di satu pihak ialah kelompok minoritas yang memiliki tanah melampaui keperluan sehingga karena itu harus memperkerjakan orang lain. Sebaliknya, di pihak lain ialah kelompok mayoritas yang tidak memiliki tanah ataupun alat, yang mereka miliki hanyalah rasa lapar dan tenaga. Nasib mayoritas, dalam system sosial yang baru ini, jelas, perbudakan. Kelas yang diperbudaki tidak memiliki apa-apa. Tidak mempunyai tanah, tidak mempunyai air, tidak mempunyai kehormatan, tidak mempunyai asal-usul, tidak mempunyai moralitas, tidak mempunyai nilai, tidak mempunyai hak, mereka tidak mempunyai apa-apa didunia ini.

Yang awalnya hanyalah suku atau kelompok. Tetapi dengan hadirnya pertanian, dan karena nafsu untuk memiliki, maka masyarakat kesatuan, dimana semua manusia di dalamnya merasa bersaudara dalam satu keluarga, sekarang menjadi terpecah belah dan baku hantam.

Ketika merenungkan kisah Habil dan Qabil, bukankah dalam kisah itu lebih menonjol faktor seksualitaslah yang lebih menjadi faktor utama dari pada persoalan ekonomi?. Sebagaimana juga konflik itu berpangkal dari “perempuan”, persis yang terjadi pada ayahanda mereka. Semua bermula dari “Hawa”.

Bila dua gejala, meskipun sama dalam setiap hal, tumbuh berkembang pada arah yang berbeda dan berlawanan, maka menurut metode ilmiah dan logis kita harus mencatat semua sebab, factor dan kondisi masing-masing. Dalam kisah Habil dan Qabil diatas, satu-satunya factor yang membedakan kedua bersaudara itu ialah perbedaan pekerjaan mereka (lingkungan). Pekerjaan mereka yang berbeda-beda telah menempatkan mereka masing-masing pada posisi ekonomis dan sosial yang berbeda pula.

Sayap yang diwakili Habil ialah mereka yang menderita dan tertitindas. Mereka yang sepanjang sejarah telah digorok dan diperbudak oleh system Qabil dan Habil merupakan perang abadi yang melibatkan setiap generasi sepanjang sejarah. Yang mengibarkan panji-panji Qabil selalu kelas penguasa, sedangkan generasi demi generasi keturunan dan penerusnya senantiasa terbakar oleh warisan dendam kesumat terhadap Habil-ialah mereka yang menderita dan berjuang demi keadilan, kemerdekaan dan iman dan pertarungan yang terus dalam berbagai cara, sepanjang zaman.

Pertarungan antara Habil dan Qabil merupakan pertarungan antara keadilan serta kesatuan manusia di satu pihak dan diskriminasi sosial. Semua pertarungan ini telah berlangsung sepanjang sejarah umat manusia, dan akan terus berlangsung hingga akhir zaman.