Wahyu


Setelah menelusuri penafsiran orang Yahudi akan bidang-bidang utama pengalaman manusia, dan menyadari bahwa mereka telah berhasil menampilkan pemahaman yang lebih dalam tentang makna kehidupan itu dibandingkan dengan bangsa-bangsa tetangga mereka di sekitar laut Tengah. Bahkan pengertian yang mereka peroleh dalam hal-hal yang terpokok tidak ada bandingannya bahkan sampai sekarang ini.

Ajaran orang Yahudi bahwa semua manusia adalah warga dari suatu keluarga yang sama, yang digambarkan secara simbolis dalam kisah nabi Adam dan Hawa, secara terang-terangan menolak penafsiran demikian. Jawaban orang Yahudi sendiri adalah bahwa mereka sama sekali tidak menghasilkan kebijaksanaan-kebijaksaan tersebut. Kebijaksanaan-kebijaksanaan tersebut diwahyukan kepada mereka.

Wahyu berarti penyingkatan. Jika seseorang berkata. “Hal itu jelas bagaikan wahyu kepada saya,” maka yang dimaksudkannya adalah apa yang sampai saat ini masih gelap baginya, tiba-tiba menjadi jelas; suatu tabir telah diangkat, dan apa yang sebelumnya tersembunyi sekarang diperlihatkan. Sebagai suatu konsep teologis istilah “wahyu” mempunyai arti dasar penyingkapan ini, tetapi dipusatkan kepada penyingkapan suatu hal khusus, yaitu Tuhan, sifatNya, dan kehendakNya terhadap manusia.

Bagi orang Yahudi, Tuhan mengungkapkan dirinya pertama-tama dan terutama melalui perbuatanNya; bukan dalam sabda tetapi dalam perbuatan. Hal ini muncul secara jelas dalam petunjuk Nabi Musa kepada bangsanya serta keturunannya: “Jika putramu bertanya kepadamu di masa yang akan datang, ‘Apakah makna dari kesaksian dan undang-undang serta peraturan yang telah diperintahkan oleh Tuhan kita kepada anda?’ Maka katakanlah kepada putramu itu: “Kita pernah menjadi budak Fir’aun di Mesir. Dan Tuhan telah membawa kita ke luar dari Mesir dengan menggunakan kekuatan. “Eksodus, peristiwa yang hampir tidak dapat dipercaya dimana, Tuhan membebaskan suatu bangsa yang tidak terorganisir dan telah diperbudak oleh Negara terkuat di zaman itu, bukan hanya merupakan peristiwa yang membentuk orang Yahudi menjadi satu bangsa, melainkan juga, merupakan suatu perbuatan nyata pertama di mana Tuhan menjelaskan kepada orang Yahudi hakikatNya sepenuh-penuhnya”.

Benar bahwa kitab Keajaiban menjelaskan sejumlah kejadian di mana Tuhan mengungkapkan dirinya sebelum terjadinya Eksodus tersebut, tetapi semua keterangan tersebut ditulis kemudian dari sudut pandangan pengalaman yang menentukan itu. Orang Yahudi tidak pernah sangsi bahwa Tuhan ikut campur tangan secara langsung dalam pembebasannya dari kekuasaan Fir’aun. Carl Mayer menulis: “Jika ditinjau dari segi setiap hukum sosiologis yang diketahui sampai saat ini, seharusnya orang Yahudi telah musnah sejak zaman dahulu”. Para penulis Kitab Suci akan menerangkan hal itu dengan cara berbeda: Jika didasarkan pada setiap hukum sosiologis yang pernah dikenal, orang Yahudi tidak pernah akan muncul sebagai suatu bangsa. Namun beginilah kenyataannya; sekelompok kecil orang yang hubungannya satu sama lain tidak erat, dan tidak mempunyai kehidupan bersama dalam arti yang sebenarnya, dan hidup sebagai budak dari kekuatan besar pada saat itu, berhasil melarikan diri dan menghindari pengejaran kereta perang dari para prajurit yang memburunya. Menyadari kelemahan mereka yang begitu jelas dibandingkan dengan kekuatan yang dimiliki oleh Mesir yang juga sangat mustahil bahwa pembebasan itu merupakan hasil karya mereka sendiri. Hal itu jelas merupakan mukjizat. “Dengan rahmat Tuhan, Israel telah selamat dari kematian dan dibebaskan dari kekuasaan orang Mesir (Kel. 12:50)

Dapat dikatakan bahwa Eksodus lebih dari sekedar semacam tonggak sejarah yang mengubah sekelompok masyarakat menjadi suatu bangsa. Peristiwa tersebut adalah suatu peristiwa historis, dimana masyarakat Yahudi menjadi sangat sadar akan adanya Tuhan dan untuk pertama kalinya dapat menyadari secara jelas hakikatnya sebagai suatu bangsa.

Dan Bagaimanakah hakikat Tuhan yang telah mengungkapkan dirinya secara jelas dalam Eksodus itu? Pertama, Ia adalah Tuhan kekuatan, yaitu kekuatan jelas yang mampu menundukkan bangsa terkuat, Mesir dengan segala macam dewa-dewa yang mungkin mendukung dibelakangnya. Tetapi bersamaan dengan itu, Ia juga Tuhan kebaikan dan cinta. Walaupun hal ini tidak begitu jelas bagi luar, sifat itu sangat jelas bagi orang Yahudi yang merupakan penerima utama kebaikan dan cinta itu. Sebagai orang Yahudi apakah ada amal perbuatan mereka yang luar biasa yang menyebabkan mereka memang pantas untuk menerima pembebasan secara menakjubkan itu? Sepanjang yang mereka ketahui tidak ada di antara mereka yang melakukan hal demikian. Kemerdekaan datang kepada mereka sebagai suatu contoh dari cinta Yahweh yang tidak disangka dan menakjubkan. Dalam waktu yang singkat saja orang Yahudi  sekaligus menyadari bahwa cinta Tuhan ini tertuju bagi seluruh umat manusia, dan bukan hanya untuk mereka sendiri. Sekali kesadaran akan adanya cinta cinta Tuhan itu telah berakar dalam hati.

Selain dari kekuatan dan cinta Tuhan, Eksodus mengungkapkan Tuhan yang mempunyai perhatian yang sangat besar pada manusia serta pada perbuatannya. Ketika dewa-dewa dari bangsa lain di kawasan tersebut terutama dewa alam, yang merupakan wujud pujaan dari kekuatan manusia pada yang dikandung kekuatan alam semesta ini, Tuhan dari perang Israel mengungkapkan dirinya sendiri bukan terutama dalam bentuk matahari atau badai dahsyat atau kesuburan, melainkan dalam suatu peristiwa bersejarah. Akibatnya perbedaan terhadap agama Yahudi bukan main hebatnya. Seperti telah diungkapkan kepada mereka tentang adanya Tuhan yang cukup besar perhatiannya kepada hidup manusia yang nyata.

Dengan adanya pengungkapan dasar oleh Tuhan dalam Eksodus ini, kekuatanNya, kebaikanNya, dan perhatianNya terhadap kejadian-kejadian sejarah pemahaman orang Yahudi mengenai hakikat Tuhan yang lain mengalir dengan sendirinya. Jika Tuhan itu sendiri adalah baik, maka tidak ada yang perlu dipermasalahkan tentang kehendakNya terhadap manusia. Ia juga menginginkan agar manusia itu juga bersifat baik.

Di mulai dari bab ini dengan mengutarakan pendapat bahwa kunci untuk memahami agama Yahudi adalah semangat para perumus agama tersebut untuk memahami makna kehidupan ini. Namun setelah sekian kita memperoleh pengertian yang lebih lanjut tentang agama ini, sekarang kita merasakan bahwa “kunci” tersebut harus kita lebur kembali. Urutan peristiwa itu bermula dengan pengungkapan yang mengejutkan kebaikan Yahweh, kekuatanNya, serta perhatianNya dan peristiwa Eksodus yang hampir tidak dapat dipercaya itu. Tetapi apa sebabnya pengungkapan diri Tuhan itu dilakukan terhadap orang Yahudi?. Jawaban mereka adalah; “karena kami terpilih”