Umat Yang Terpilih


Ada sesuatu sajak yang popular di dunia Barat yang berbunyi sbb: “Tentu saja ajaran bahwa Tuhan Universal bagi seluruh bangsa memutuskan untuk mengungkapkan dirinya kepada suatu bangsa saja secara khusus dan tidak pernah sebelum atau sesudahnya kepada bangsa lain, merupakan suatu ajaran-ajaran yang aneh untuk dipelajari secara sungguh-sungguh dalam seluruh studi mengenai agama”.

Memang benar bahwa ajaran orang Yahudi bahwa mereka dipilih, dimulai dari kebiasaan yang ada pada zaman itu. Namun dengan segera ajaran itu menghasilkan suatu kejutan. Karena berbeda dengan bangsa-bangsa lainnya, orang Yahudi tidak memandang dirinya terpilih untuk melayani dan untuk menanggung penderitaan yang diperlukan untuk terlaksananya pelayanan itu. Dengan menghendaki bahwa agar mereka “melaksanakan dan mematuhi segala firman Tuhan”, maka dengan terpilihnya mereka dibebankan ke atas pundak mereka sesuatu beban moral yang lebih berat dari pada yang dipikul oleh bangsa-bangsa sesamanya.

Tidak mungkin bagi kita membuktikan ajaran ini, namun kita dapat melakukan tiga hal. Kita dapat mengerti (1) apa yang menyebabkan orang Yahudi menganut agama tersebut, (2) apa akibatnya terhadap sejarah mereka, (3) mengapa wahyu Tuhan terhadap manusia mungkin menuntut suatu penderitaan seperti pengalaman orang Yahudi tersebut.

Salah satu ciri yang menarik hati dari bangsa Yahudi ini adalah penolakan mereka untuk menafsirkan segala keluarbiasaan tersebut sebagai suatu keluarbiasaan yang hakikatnya terletak pada diri mereka sebagai manusia.

Jika kita mengalihkan pertanyaan kepada masalah apakah akibatnya bagi orang Yahudi sendiri setelah mereka meyakini ajaran bahwa mereka adalah orang yang terpilih, jawabannya jelas, Tidak ada yang lebih mampu membangkitkan reaksi dari suatu masyarakat selain dari pernyataan adanya perhatian yang diberikan kepada mereka.

Agama Yahudi secara tegas menyatakan bahwa kebenaran yang dimiliki oleh setiap bangsa akan memperolah tempatnya di dunia yang akan datang, sedangkan dalam kenyataan historis, tidak ada bangsa yang demikian berat penderitaannya seperti orang Yahudi. Inti ajaran yang diutarakan orang Yahudi tentang kedudukan mereka sebagai bangsa terpilih bukanlah bahwa obyektif menyukai mereka lebih dari bangsa lainnya, melainkan hanyalah bahwa Tuhan mengungkapkan dirinya secara lebih jelas melalui mereka.

Dewasa ini orang Yahudi sendiri tidak sepaham dalam menafsirkan ajaran tentang bangsa terpilih ini. Sebagian orang Yahudi percaya bahwa apapun kegunaannya atau keabsahannya secara obyektif pada zaman Kitab Suci itu, dewasa ini ajaran tersebut tidak berguna lagi. Dalam bentuknya sekarang ini, ajaran itu telah menjadi bahan perbandingan yang menyakitkan hati, dan sama sekali tidak dapat dibela dalam kenyataan.