Argumen-Argumen Tentang Wujud Tuhan


A.      Argumen Ontologis

Filsafat agama mengajukan beberapa argumen atau dalil tentang adanya Tuhan. Salah satu di antara argumen-argumen tradisional dalam filsafat agama adalah ontologis (ontos = sesuatu yang berwujud, ontologi= teori/ilmu tentang wujud / tentang hakikat yang ada).  Argumen ontologis tidak banyak berdasar pada alam nyata, tetapi argument ini berdasarkan pada logika semata-mata.

Argumen ontologis dipelopori oleh Plato (428-348 SM) dengan teori idenya. Menurutnya, tiap-tiap yang ada di alam ini mesti ada idenya. Yang di maksud dengan ide ialah definisi atau konsep universal dari tiap sesuatu.

Setiap sesuatu di alam mempunyai ide, dan ide inilah yang menjadi dasar wujud sesuatu itu. Ide-ide berada dalam alam tersendiri yaitu alam ide. Alam ide berada di luar alam nyata dan ide-ide itu kekal. Benda-benda yang tampak di alam nyata dan senantiasa berubah, bukanlah sebuah hakikat tetapi hanya bayangan. Yang sebenarnya mempunyai wujud ialah ide-ide itu, dan bukan benda-benda yang dapat ditangkap dengan panca indra. Benda-benda nyata ini adalah khayalan atau ilusi belaka. Benda-benda berwujud karena adanya ide-ide. Dan adanya ide-ide adalah tujuan dan sebab dari wujud benda-benda. [1]

Ide-ide bukan berarti terpisah, tanpa ada hubungan antara satu dengan yang lainnya, tetapi semuanya bersatu dalam sebuah ide tertinggi yang diberi nama ide kebaikan atau The Absolute Good, yaitu Mutlak Baik. Yang Mutlak Baik itu adalah sumber, tujuan dan sebab dari segala yang ada. Yang Mutlak Baik itu disebut Tuhan.

Argumen Ontologis kedua dimajukan oleh St, Agustinus (354-430 M). Menurut Agustinus manusia mengetahui dari pengalamannya bahwa dalam alam ini ada kebenaran. Pada saat yang sama, akal manusia terkadang merasa bahwa ia mengetahui apa yang benar, tetapi terkadang manusia ragu-ragu akan kebenaran yang di ketahuinya. Dengan kata lain, akal manusia mengetahui bahwa diatasnya masih ada suatu kebenaran tetap, kebenaran yang tidak berubah-ubah itulah yang menjadi sumber dan cahaya bagi akal dalam mengetahui apa yang benar. Kebenaran tetap dan kekal itu merupakan kebenaran mutlak dan kebenaran mutlak itu yang disebut dengan Tuhan.[2]

Al-Farabi (872-950), seorang filosof muslim beliau juga mengungkapkan dalil ontologi tentang wujud Tuhan. Menurutnya, wujud yang sempurna dan paling awal mau tidak mau harus berwujud. Sebab, esensi dan wujud-Nya tidak ada sebagaimana yang tidak eksis ketidakwujudan. Karena itu, demikian Al-Farabi menjelaskan, Zat yang sempurna tidak mungkin tidak ada dari segala aspek. Bahkan Dia kekal dan abdi.

Demikian juga Al-Farabi menyatakan bahwa tugas filsafat, adalah menentukan sebab eksisitensi, sifat dan jumlahnya. Kenyatannya, yang menjadi sebab dari segala yang eksis adalah unik dan pertama. Yang unik ini adalah kebenaran yang pertama dan tidak tergantung kepda wujud selain-Nya. Yang pertama, tidak mungkin tidak sempurna dengan segala alasan. Tidak juga ada wujud yang melebihi kesempurnaan-Nya dan lebih dahulu dari-Nya. Sebab, Dia sendiri sudah disebut Yang Pertama. [3]

Argumen Ontologis keempat dimajukan oleh St. Anselm dari Canterbury (1033-1109 M). Ia lahir di Italia pada tahun 1093 menjadi uskup agung Canterbury. Menurut Anselm, manusia dapat memikirkan sesuatu yang kebesarannya tidak dapat melebihi dan diatasi oleh segala yang ada, konsep sesuatu yang Maha Besar, Maha Sempurna, sesuatu yang tak terbatas. Zat yang serupa ini mesti mempunyai wujud dalam hakikat, sebab kalau ia tidak memiliki wujud dalam hakikat dan hanya mempunyai wujud dalam pikiran, zat itu tidak mempunyai zat lebih besar dan sempurna daripada mempunyai wujud. Mempunyai wujud dalam alam hakikatnya lebih besar dan sempurna daripada mempunyai wujud dalam alam pikiran saja.

Argumen-argumen Ontologis ini mendapat kritikan berbagai pihak. Gaunilo mengkritik pendapat Anselm dalam bukunya A Book on Behalf of the Fool. Dia berpendapat bahwa sangat berlebih-lebihan menyederhanakan cara membuktikan Tuhan. Menurut Gaulino, ide tentang Tuhan mutlak dapat dipahami, sebagaimana dikemukakan Anselm, tetapi dia menolak bahwa dengan ide itu disimpulkan bahwa Tuhan secara faktual. Jika seseorang bercerita, tentang pulau yang sangat indah, surga di dunia yang sangat nyaman, menurut Gaunilo tentu sangat mudah membayangkan hal itu di dalam pikiran. Tetapi, dari ide dalam pikiran itu tidak dapat disimpulkan bahwa pulau itu wajib ada dalam alam nyata.

B.       Argumen Kosmologis

 Argumen Kosmologis ini disebut juga dengan argumen sebab akibat. Argumen Kosmologis ini adalah argumen yang tua sekali, sebagaimana halnya dengan ontologis. Kalau argumen ontologis berasal dari Plato, maka argumen kosmologis ini berasal dari Aristoteles (384-322 SM) murid Plato.

Menurut Plato, tiap yang ada dalam alam mempunyai ide universal, bagi Aristoteles tiap benda yang dapat ditangkap oleh pancaindera mempunyai materi (matter) dan bentuk (form). Bentuk, terdapat dalam benda-benda sendiri dan bentuklah hakikat dari sesuatu. Bentuk tak dapat berdiri sendiri terlepas dari materi. Materi dan Bentuk selamanya satu. Materi tanpa bentuk tidak ada. Materi dan bentuk hanya dalam akal dapat dipisahkan, tetapi dalam kenyatan selalu bersatu

Karena merupakan hakikat (konsep universal atau definisi) bentuk adalah kekal dan tidak berubah-ubah. Namun, dalam alam indrawi terdapat perubahan. Perubahan menghendaki dasar. Di atas dasar inilah perubahan dapat terjadi. Dasar inilah yang disebut materi oleh Aristoteles.

Materi berubah, tetapi bentuk kekal. Bentuklah yang membuat materi berubah dengan arti materi berubah untuk mendapat  bentuk tertentu.

Sebelum materi memperoleh bentuk tertentu, materi mempunyai potensi untuk menjelma menjadi benda yang dimaksud. Potensi yang ada dalam materi menjelma menjadi hakikat atau aktualitas karena bentuk. Oleh karena itu, materi disebut potensialitas dan bentuk aktualitas. [4]

Antara materi dan bentuk ada hubungan gerak. Yang menggerakan ialah bentuk dan  yang digerakkan adalah materi. Materi adalah suatu potensialitas karena karena itu akan berubah dan bergerak. Sebaliknya, bentuk adalah aktualitas yang tidak bergerak dan kekal. Sebagai aktualitas bentuk adalah sempurna, sedangkan materi sebagi potensial tidak sempurna. Bentuk dalm arti penggerak pertama mestilah sesempurna mungkin hanya satu dan merupakan akal. Aktivitas akal ini hanya bisa berupa pikiran. Karena penggerak pertama ini adalah sempurna tidak berhajat pada yang lain, maka lahan pemikirannya adalah diri sendiri. Akal serupa ini adalah akal yang suci.

Akal inilah Tuhan. Tuhan dalam paham tersebut tidak mempunyai sifat pencipta alam (materi kekal). Hubungannya dengan alam hanya merupakan penggerak pertama dengan yang digerkkan. Aktivitasnya adalah pemikiran harus berlangsung terus menerus dan tidak mungkin berhenti. Objek pemikiran tentun yang maha tinggi, yaitu pemikiran ilahi itu sendiri. Dengan demikian, Tuhan memiliki kebahagiaan yang sempurna tanpa putus-putusnya.

Dalam pandangan Aristoteles, Penggerak Yang Tidak Bergerak bukanlah zat personal, tetapi impersonal. Dan waktu itu tidak menjadi masalah pokok benar, apakah Tuhan mengadakan dari ada atau dari tidak ada. Yang jelas adalah bahwa penggerak pertama, adalah pengertian Aristoteles adalah zat yang immateri, abadi dan sempurna.

Dalam tradisi filsafat islam, argumen kosmologis ini didukung oleh sebagian filosofnya. Al-Kindi (769-873) berargumen bahwa alam ini diciptakan dan penciptanya adalah Allah. Segala yang terjadi dalam alam mempunyai hubungan sebab akibat. Ssebab mempunyai efek kepada akibat rentetan sebab musabab ini berakhir pada suatu sebab pertama, yaitu Allah pencipta alam.

Pencipta alam, menurut al-kindi, esa dari segala bentuk dan Dia berbeda dengan alam. Tiap-tiap benda, demikian al-Kindi, memiliki dua hakikat, yaitu hakikat partikular (juz’i) yang disebut aniah dan hakikat universal (kulli), yang disebut mahiah, yaitu hakikat yang bersifat universal yang terdiri genus dan species.[5]

Tuhan dalam filsafat al-kindi tidak mempunyai hakikat dalam arti aniah atau mahiah. Tuhan hanya satu dan tidak ada yang serupa dengannya. Tuhan unik, Yang Benar Pertama, dan Yang Benar Tunggal. Hanya Tuhanlah yang satu, selain Dia semuanya mengandung arti banyak.[6]

Setelah al-Kindi, filosof Muslim yang mendukung argumen kosmologis adalah Ibn Sina (980-1037). Menurutnya wujud terbagi atas dua maca: wujud mungkin dan wujud mesti.          Tiap yang ada mesti mempunyai esensi (mahiah) di samping eksistensi (wujud). Wujud demikian Ibn Sina, lebih penting daripada mahiah karena wujudlah yang membuat mahiah menjadi ada dalam kenyataan. Mahiah hanya ada dalam pikiran atau akal sedang wujud terdapat dalam alam nyata, di luar pikiran atau akal.

Ibn Sina mengatakan lebih lanjut bahwa Tuhan wajib wujudnya sebagaimana bapak wajib wujudnya karena ada anaknya, dan begitu juga adanya pedang mewajibkan adanya pandai besi. Wajib Wujud Esa, sempurna, sederhana, dan berpikir tentang dirinya. Karena itu Ibn Sina juga mengatakan Tuhan adalah pikiran, Karena itu, Ibn Sina juga mengatakan Tuhan adalah, yang memikirkan, dan yang dipikirkan. (‘aql, ‘aqil, ma’qul).

Argumen kosmologis ini kemudian dikembangkan oleh tokoh Skolastik Kristen, yaitu Thomas Aquinas (1225-1274). Dan dia mendasari argumennya pada kebenaran alam dengan menggunakan dalil-dalil rasional. Dia menolak pendapat teolog yang menyatakan bahwa eksistensi Tuhan adalah masalah keimanan yang tidak bisa dijelaskan dengan filsafat. Aquinas sendiri berprinsip bahwa eksistensi Tuhan bisa diketahui lewat rasio. Karena itu, dia mengemukakan lima argumen dalam membuktikan keberadaan Tuhan yaitu:

1.             Argumen pertama berdasarkan pada sifat gerak; terbukti dan jelas dengan pancaindra kita bahwa alam bergerak. Dengan demikian, sesuatu yang dgerakkan tentu digerakkan oleh yang lain karena tidak ada sesuatu yang bergerak kecuali potensi menjadi aktus, sebab,gerak sendiri adalah suatu perubahan dari potensi ke aktus.

Menurut Aquinus, apa yang secara actual panas tidak bisa terus menerus berpotensi panas, karena mustahil bahwa dalam hal yang sama dan cara yang sama sesuatu menjadi penggerak dan sekaligus digerakkan, seperti menggerakkan diri sendiri. Dengan demikian, apa pun yang digerakkan mesti digerakkan oleh sesuatu yang lain, tentu dia digerakkan oleh yang lain lagi. Keadaan yang begini tidak bisa berlanjut tanpa batas tanpa muncul Penggerakan Pertama.

2.             Argumen kedua berdasarkan pada kausalitas. Di alam indrawi kita menemui suatu petunjuk tentang sebab pembuat (efficient cause). Tidak ada peristiwa yang diketahui sesuatu menjadi sebab efisien bagi dirinya sendiri sebab itu harus lebih dahulu ketimbang dirinya. Sebab-sebab efisien tidak mungkin berlanjut tanpa batas karena dalam semua sebab efisien mengikuti aturan; yang pertama adalah sebab dari sebab perantara, dan sebab perantara adalah dari sebab tertinggi. Jadi, untuk menetapkan sebab harus pula mengakui akibat.

Oleh karena itu, jika tidak ada sebab pertama pada sebab-sebab efisien, tentu tidak akan ada juga sebab tertinggi dan perantara. Jika sebab-sebab efisien mungkin tanpa batas tentu tidak akan ada sebab efisien pertama, begitu juga akibat tertinggi, dan berbagai sebab-sebab efisien pertama; semua ini sama sekali salah. Karena itu, adalah perlu untuk mengakui suatu sebab efisien pertama, yang setiap orang meyebutnya Tuhan.

3.             Argumen ketiga dibangun atas konsep kemungkinan dan kemestian. Kita menemukan di alam sesuatu mungkin terjadi dan mungkin tidak terjadi karena sesuatu itu bertambah dan berkurang. Karena itu, wajar saja kalau sesutu itu tidak ada (menjadi). Tetapi mustahil juga baginya untuk selalu ada karena pada suatu saat pernah tidak ada. Jika setiap sesuatu tidak menjadi, kemudian pada suatu saat tidak ada dalam eksistensi, sebab yang tidak ada dimulai adanya lewat sesuatu yang sudah pernah ada.

Karena itu, jika pada suatu saat tidak ada dalam eksistensi, mustahil bagi setiap sesuatu untuk ada, dan bahkan sampai sekarang tidak ada yang muncul. Oleh karena itu, mau tidak mau kita harus mengakui eksistensi karena keharusan dirinya sendiri, inilah yang disebut dengan Tuhan.

 4.                  Argumen keempat, berdasarkan pada konsep gradasi. Di alam nyata, dijumpai ada yang lebih dan ada yang kurang baik, benar, mulia, dan sebagainya. Namun, lebih dan kurang adalah keterangan tentang sesuatu yang berbeda sesuai dengan keserupaannya dalam cara-cara yang berbeda, yaitu sesuatu yang maksimum, ketika sesuatu dikatakan lebih panas menurut sesuatu yang hampir menyerupai yang lebih panas; jadi, ada sesuatu yang paling panas, paling benar, paling baik, dan paling mulia sebagai alat ukur. Akibatnya, harus ada sesuatu yang paling di atas itu senua. Dan itu harus paling tinggi dalam kebenaran dan paling besar dalam eksistensi.

5.                  Argumen kelima dinyatakan lewat keteraturan dunia. Kita memerhatikan sesuatu yang kurang, seperti benda-benda alam memiliki aktivitas dan tujuan. Dan ternyata aktivitsnya selalu dalam cara yang sama atau hampir sama untuk meraih hasil yang terbaik. Karena itu, sangat tidak masuk akal kalau mereka mencapai tujuan itu secara kebetulan. Sesuatu yang cerdas harus ada karena semua makhluk diarahkan untuk mencapai tujuan mereka; dan sesuatu itu kita namakan Tuhan.

Argumen kosmologis ini, menurut Immanuel Kant, memiliki kelemahan. Kalau Tuhan itu bersifat Wajib al-Wujud yang menciptakan alam yang mungkin wujud. Bukankah alam mengandung sifat wajib wujud juga? . Sebab, Wajib Wujud wajib menciptakan alam, tentu alam yang diciptakan juga wajib wujudnya. Atau kalau wujud alam ini tidak wajib, kenapa “Wajib” Wujud mengadakan alam?

Kritikan yang hamper sama dilontarkan oleh Muhammad Iqbal, Iqbal berpendapat bahwa sebab pertama tidak dapat dianggap sebagai yang memiliki sifat Wajib Wujud karena dalam hubungan sebab akibat keduanya mesti wajib. Akibat wajib ada agar sebab bisa mempunyai efek pada akibat. Sebaliknya sebab wajib ada agar akibat mempunyai wujud.[7]

Bentuk lain dari kritikan terhadap argument ini adalah datang dari kaum agamawan. Al-Ghazali menganggap argument ini menimbulkan kesan bahwa Tuhan bukan pencipta dari tidak ada, tetapi hanya sebagai sebab awal saja. Karena itu, bisa saja sebab pertama bukan Tuhan, tetapi benda lain. Padahal menurut al-Ghazali Tuhan itu dinamakan Tuhan karena ada daya ciptanya. Daya cipta itu terlihat ketika Dia mampu menciptakan sesuatu dari tidak ada menjadi ada, [8]


[1] Bertrand Russel, History of  Western Philosopy, (London: George Allen & Unwin LTD, 1974) hlm. 137.

[2] Nasution, Falsafat, hal 54.

[3] M. Fakhry, “The Ontological Argument in the Arabic Tradition: the Case of Al-Farabi,” Studia Islamica,  (paris: G-P Miasonneuve-larose. MCMLXXXVI), hlm, 57.

[4] Nasution, Falsafat, hal. 56.

[5] Nasution, op cit, hlm. 53.

[6] Ibid

[7] Nasution, Falsafat dan Mistisme, hlm. 59.

[8] Al-Ghazali, Tahafut, hlm. 88.