Ketika Kesakralan Ritual Ibadah Haji Dipertaruhkan


Ahmad Tohari, dalam berhala kontemporer mengisahkan tentang seorang Ibu rumah tangga Idjem  terpaksa berjualan bakso untuk menghidupi keluarganya. Suaminya yang seharusnya memenuhi kebutuhan keluarga justru mengabaikan kewajibannya sebagai kepala rumah tangga untuk menafkahi keluarganya, apa yang menjadi kewajibannya suami Idjem hampir tidak pernah dilaksanakannya. Hari-harinya dihabiskan dengan tidur-tiduran, ngobrol bersama-sama teman-temannya. Jelas saja hal ini membuat istrinya sangat marah, kesal dan kecewa. Sampailah pada suatu ketika kekesalan, kekecewaan Idjem tak terbendung lagi, terjadilah pertengkaran hebat antara Idjem dan suaminya, yang berakhir dengan kematian suaminya. Sudah pasti peristiwa ini mengantarkan Idjem ke penjara. Di dalam penjara Idjem pernah mengikuti Musabaqah Tilawatil al-Qu’ran antar nara pidana, dalam lomba tersebut Idjem mendapat juara harapan dua.
Mungkin fenomena Idjem pandai membaca al-Qur’an kemudian melakukan tindakan kriminal. Siapapun pasti bisa memaklumi dan memahami. Idjem yang menanggung beban berat dan ditambah dengan pendidikan yang rendah bisa saja khilaf. Tetapi apa bisa  dimaklumi dan dipahami adanya dugaan penyalah-gunaan Dana Abadi Umat (DAU) yang dilakukan sekelompok orang yang mempunyai status terhormat di tengah masyarak dan memiliki pendidikan tinggi.
Dampak Penyelewengan DAU Dalam Keberagamaan Umat
Dampak dari penyelewengan Dana Abadi Umat (DAU) akan timbulnya gejala apatis terhadap agama. Terutama moralitas kaum pinggiran “masyarakat miskin” yang terlalu sering disakiti oleh sebagian orang yang mengatas namakan agama. Mereka akan mengabaikan dan tidak meyakini adanya sesuatu yang benar dalam agama. faktanya sekelompok orang mengatas namakan kebaikan, ketulusan, keikhlasan tidak lebih baik daripada pelacur-pelacur yang menjajakan dirinya dan kehormatannya. Sekalipun demikian kita tidak bisa menuduh orang-orang yang diduga kuat terlibat saat ini adalah pelakunya. Karena masalah ini adalah seperti gunung es yang sudah berlangsung lama dan kebobrokannya baru terungkap sekarang.
Bahkan, menurut Muhsin Labib, Penolakan terhadap agama memiliki akar historis dalam masyarakat masyarakat manusia, terutama masyarakat Eropa. Trauma terhadap kesewenang-wenangan para agamawan yang memaksakan kehendak dengan kedok agama, telah membuka jalan bagi timbulnya gerakan penolakan terhadap agama pada abad 18 dan 19 Masehi. Tibanya Era pencerahan yang ditandai dengan Revolusi Industri di Inggris telah menimbulkan luka yang mendalam. Eksesnya, agama apa pun dipandang sebagai momok yang menakutkan.
Pada gilirannya, muncul sejumlah mazhab pemikiran dan filsafat diikuti dengan berkembangnya sanis dan teknologi secara pesat. Para penggagas dan penyumbang bibit sekularisme dalam kristen banyak sekali antara lain Dante (1469-1546), Montesque, Voltaire, Rousseu mengajak manusia untuk meninggalkan agama wahyu. Bukankah nieztche mengumumkan ‘kematian Tuhan’ sebagai usaha menyelamatkan manusia, Marx menganggap agama sebagai candu, demi menghapus eksploitasi kaum kapitalis, Comte menganggap agama sebagai bagian dari periode masa mitos dan folklor atau era sesudahnya, metafisika.(Muhsin Labib.,2004)
Mengembalikan Fungsi Haji
Sebagian orang awam tentunya akan bertanya-tanya. Apakah tidak dimengerti bahwa dana itu disediakan untuk kesejahteraan Umat yang masih banyak berada dalam kondisi kemiskinan. Bukankah jutaan anak indonesia terpaksa tidak melanjutkan sekolah dan bekerja di usia sekolah untuk membantu mencukupi kebutuhan keluarganya. Ada banyak janda-janda yang terlantar karena ditinggalkan suaminya baik karena meninggal atau karena ditinggal pergi begitu saja. Ada banyak jutaan anak-anak indonesia terkena busung lapar. kemisikinan adalah pemandangan yang mengerikan di negeri ini, ketidak berdayaan masyarakat memenuhi kebutuhan-kebutuhan pokok, seperti sandang, pangan, dan papan untuk sekedar bertahan hidup. Mustahil bagi mereka meningkatkan tarap hidup yang lebih baik. Kekayaan  yang dimiliki benar-benar sangat terbatas, sekedar cukup untuk mempertahankan kehidupan hari ini dan selanjutnya hanya pasrah dan berharap adanya perubahan kesejahteraan yang lebih baik. Intinya banyak tindakan-tindakan sosial yang dapat dilakukan dengan menggunakan dana abadi umat tersebut, karena sesuai  dengan misi haji itu sendiri. Seperti dikutip Prof. Quraish Shihab, dalam khutbahnya ketika haji wada (Haji perpisahan) Nabi SAW memesankan beberapa pedoman hidup manusia, yaitu: 1)persamaan; 2) keharusan memelihara jiwa, harta dan kehormatan orang lain dan 3) larangan melakukan penindasan atau pemerasan terhadap kaum lemah dalam semesta aspek kehidupan (Membumikan al-Qur’an, 1992, 334).
Rasulullah saw mengatakan, “Sesungguhnya jihad yang paling utama adalah haji mabrur.” (H.R. Bukhari Muslim). Rangkaian Ibadah haji adalah berjalan menuju dan menetap di Arafat, Masy’ar, dan Mina.  Menuruf Ali syariati, Arafat berarti pengetahuan dan sain, Masy’ar berarti kesadaran dan pengertian, Mina berarti cinta dan keyakinan. Jadi Arafat, Masy’ar dan Mina adalah satu kesatuan yang berujung pada manusia sempurna laksana bayi yang terlahir kembali.
Jika Arafat (pengetahuan) maka seyogyanya para hujjaj dituntut untuk mengetahui bahwa perintah melaksanakan ibadah haji bukanlah suatu ibadah yang hanya berangkat ke ka’bah kemudian serta merta mendapat prediket haji mabrur. Bagi Cak-nur (Nurcholis Madjid) Haji itu tidak hanya berupa ritual ibadah yang semata-mata hanya untuk menjalankan perintah dan memperoleh ridha Allah, melainkan lebih dari itu. Yaitu, napak-tilas perjalanan hamba-hamba Allah yang suci, Nabi Ibrahim, Hajar, dan Nabi Isma’il, yang peristiwanya sangat historis, dan karenanya banyak memberikan pelajaran bagi kaum yang mengetahui dan memperhatikannya.
Kemudian Masy’ar yang berarti kesadaran dan pengertian. Timbulnya kesadaran bahwa  Untuk mencapai derajat haji mabrur, haji harus disadari sebagai peristiwa hati, masa menengok keimanan kepada Tuhan, keadilan, kebenaran, perdamaian, dan kemakmuran bagi seluruh rakyat. Di tengah haji semestinya diingat bahwa masih banyak penduduk Indonesia yang berada dibawah garis kemiskinan dan membutuhkan uluran tangan. (Komaruddin Hidayat.,1997)
 Mina yang berarti cinta dan keyakinan, adalah setelah menyelesaikan ibadah haji para hujjaj menjadi lebih baik. Kebaikan ditandai dengan meningkatnya  kesolehan spiritual maupun kesalehan sosial. Kesalehan sosial itu terlihat dengan tumbuhnya sikap peduli terhadap sesama dengan aksi-aksi kongkret yang langsung menyentuh grass root. Misalnya: mendirikan lembaga pendidikan sosial keagamaan, menyantuni fakir miskin dan lain-lain. Sesuai dengan pesan nabi sendiri pada pidato arafah,  bahwa umat Islam itu bersaudara maka sudah semestinya untuk saling tolong-menolong.
Istilah haji sosial dikemukakan oleh Fariduddin al-Attar dalam Warisan Para Awliya yang kemudian diangkat kembali oleh M. Sobary dalam Moralitas Kaum Pinggiran mengisahkan tentang seorang sufi Abdullah bin Mubarak yang baru saja menunaikan ibadah haji bersama ratusan hujjaj. Dalam ru’yah fi al-manam (inspirasi rohani dalam mimpi sadar) diketahui bahwa tak seorang pun dan jemaah haji itu yang diterima, justru tukang sepatu di Damaskus yang tidak pergi ketanah Suci hajinya diterima. Setelah diselidiki, seorang tukang sepatu yang bernama Ali bin Muwaffak telah mengumpulkan selama tiga puluh tahun untuk berhaji. Ketika tiba saatnya, tetangganya tampak hidup nelongso (sengsara). Akhirnya, uang yang sedianya digunakan berhaji diberikan kepada tetangganya dengan niat bahwa pemberian itulah hajinya. (Ahmad Najib Burhani.,84)
Misi yang diemban dari pelaksanaan Ibadah haji itu adalah terciptanya ukhuwah islamiyah, baik sesama umat beragama terlebih lagi dengan umat yang berbeda agama. Berusaha meingkatkan tarap hidup sesama umat beragama baik itu dari aspek sosial, ekonomi, pendidikan, Politik dan Budaya  . Dengan demikian manifestasi dari ibadah haji itu tumbuhnya komitmen sosial.