Keharusan Mimilih Kader Pemimpin


Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (nya), dan ulil amri (pemimpin) di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, Maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.”  (QS. An Nisaa [4]: 59).

Menurut Ali Syari’ati, secara sosiologis masyarakat dan kepemimpinan merupakan dua istilah yang tidak dapat dipisahkan. Syari’ati berkeyakinan bahwa ketiadaan kepemimpinan menjadi sumber munculnya problem-problem masyarakat, bahkan masalah kemanusiaan secara umum. Tanpa pemimpin umat manusia akan mengalami disorientasi dan alienasi.
Ketika suatu masyarakat membutuhkan seorang pemimpin, maka seorang yang paham akan realitas masyarakatlah yang pantas mengemban amanah kepemimpinan tersebut. Pemimpin tersebut harus dapat membawa masyarakat menuju kesempurnaan yang sesungguhnya. Watak manusia yang bermasyarakat ini merupakan kelanjutan dari karakter individu yang menginginkan perkembangan dirinya menuju pada kesempurnaan yang lebih.
terkati dengan kepemimpinan dalam islam merupakan sebuah amanah yang harus diberikan kepada orang yang benar-benar berkualitas- memiliki  tanggungjawab, adil, jujur, dan bermoral. Inilah beberapa kriteria yang Islam tawarkan dalam memilih seorang pemimpin yang sejatinya dapat membawa masyarakat kearah kehidupan yang lebih baik, harmonis, dinamis, makmur, sejahtera, dan tentram.
Tidak disangkal lagi, pemimpin ideal yang pernah ada di atas permukaan bumi adalah Rasulullah. Dialah pemimpin abadi bagi umatnya dan umat manusia umumnya. Tidak ada nama pemimpin besar yang namanya disebut hingga kini sebanyak nama Muhammad, sebagaimana firman Allah dalam surat Al-Ahzab [33] ayat 21, “Sesungguhnya Telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.(QS. Al-Ahzab [33] : 21)
Dalam terminologi Islam pemimpin biasanya disebut “khalifah” sedangkan hal yang menyangkut kepemerintahan disebut “kekhalifahan”. Urgensi seorang imam disebutkan dalam al-Qur’an, “Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (nya), dan ulil amri (pemimpin) di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, Maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.”  (QS. An Nisaa [4]: 59). Hakekat keberadaan pemimpin dalam ajaran Islam adalah menggantikan posisi kenabian dalam menata dan mengatur urusan negara dan agama. Sebagaimana terbentuknya kepemimpinan khulafaur rasyidin setelah wafatnya Rasulullah.
Pada prinsipnya seorang pemimpin memiliki tanggungjawab yang berat. Sebab       seorang pemimpin tidak hanya mempertanggungjawabkan kebijakannya di hadapan masyarakat yang dipimpinnya saja, akan tetapi juga mempertanggungjawabkannya di hadapan Allah. Kebijakan-kebijakan yang pernah diambil  harus dipertanggungjawabkan, terutama yang berkaitan dengan kemaslahatan umat. Sebagaimana sabda Rasulullah, ”Setiap pemimpin harus mempertanggung jawabkan  (permasalahan) rakyatnya (di sisi Allah).”
Kehadiran seorang pemimpin diharapkan dapat menciptakan keadilan sosial, ekonomi, hukum, dan kesejahteraan masyarakat. Tanpa kehadiran sosok pemimpin yang bertanggungjawab, tentu tidak akan tercipta ketenangan, ketentraman, dan kesejahteraan masyarakat. Oleh karena itu, kita wajib memilih pemimpin yang amanah, bertanggungjawab,  tegas, adil, bijaksana, memotivasi ummat untuk berbuat baik, memiliki visi, melayani, dan taat menjalankan perintah agama.
Berangkat dari penjelasan di atas, dapat ditarik benang merah bahwa kita mempunyai peran signifikan dalam menentukan siapa dan bagaimana sosok yang akan memimpin kita. Baik buruknya pemimpin yang akan memimpin kita, sangat dipengaruhi oleh bagaimana kita menggunakan mata hati kita untuk melihat secara jernih dan berpandangan ke masa depan.
Rasulullah pernah mengingatkan bahwa ada dua macam pemimpin di dunia ini, yaitu pemimpin yang baik dan pemimpin yang jahat. Diriwiyatkan dari Hisyam bin Urwah dari Abi Shalih dari Abu Hurairah bahwasanya Rasulullah bersabda, “Akan memerintah setelahku sebuah pemerintahan. Pemimpin yang baik  akan memerintah dengan baik dan pemimpin yang jahat akan memerintah dengan kejahatannya.  Maka dengarkanlah dan patuhilah yang benar.Semoga Allah memberikan kepada kita pemimpin yang benar-benar amanah dan dalam mengambil kebijakan selalu mendahulukan kemaslahatan umat atau masyarakat yang dipimpinnya.