Sedia Payung Sebelum Hujan


“Pergunakanlah lima kesempatan, sebelum datangnya lima ha­langan. Hidupmu sebelum kematianmu, kesehatanmu sebelum sakit­mu, peluangmu sebelum kesibukanmu, masa mudamu sebelum masa tua­mu dan kekayaanmu sebelum kemiskinanmu.” (HR. Ahmad)
Sang Nabi mengingatkan, “Apabila kamu me­ma­­­­su­ki pa­gi, maka janganlah menunggu sore, dan apa­­bi­­la kamu memasuki sore maka janganlah me­nung­­gu pa­gi hari.” (HR. Bukhari).
Namun sa­ngat di­sa­yangkan, kebanyakan orang tidak per­nah ber­­usaha mak­si­mal belajar bagaimana sedia payung sebelum hujan. Itulah me­nga­pa, ketika hujan datang dan membasahi tubuhnya, dia se­lalu mengeluh dan menyalahkan keadaan. padahal kejadian itu berulang-ulang terjadi, namun tetap saja dia tidak berhasil me­rubah kebiasaan buruknya.
Kita seringkali berobat saat penyakit yang diderita sudah mencapai titik kronis. Tapi di saat segar bugar, kita hampir tidak pernah berpikir lebih baik mencegah daripada mengobati. Saat dokter memvonis bahwa kita menderita penyakit yang akut, baru ketika itulah kita menyesali pola hidup kita selama ini. Kita menyesal di saat semuanya memburuk. Setelah penderitaan demam itu datang, barulah kita berpikir untuk menghargai dan mensyukuri betapa nikmatnya memiliki badan yang sehat dan kuat. Dalam kondisi tak berdaya itulah kita biasanya berdoa kepada Allah. “Ya Allah yang Maha Rahman dan Rahim, ampuni dosa hamba dan khilafan hamba, hamba menyesal selama berada dalam kebahagian, melupakan-Mu.”
Di dalam mengarungi samudera kehidupan, seseorang se­­lalu dihadapkan pada berbagai macam problema. Apabila ia mem­biar­kan problem itu bertumpuk menggunung, maka ia akan menjadi banjir bandang yang menghanyutkan. Itu­lah mengapa Rasulullah mengingatkan ummatnya. “Dua ma­cam kenikmatan dari nikmat-nikmat Allah, kebanyakan umat ma­nu­sia merugi padanya, yaitu kesehatan dan waktu luang.” (HR. Bukha­ri).
Kesehatan dan waktu luang sangat kita dambakan, namun ter­ka­dang kita tidak dapat mengambil makna dari kebahagiaan itu. Penderitaan menyedihkan, namun justru kita memperoleh mu­tiara tersembunyi di dalamnya.
Semua orang yang berpikir menjadi pemenang, ketika ter­ben­tur pada suatu masalah, mereka tidak mencari-cari sebab di luar dirinya. Justru mereka mencari jalan keluar terbaik agar dapat keluar dari kungkungan masalahnya. Sebaliknya, ba­gi orang-orang yang suka mempermasalahkan hal-hal sepele ser­ta mempunyai kebiasaan membesar-besarkan masalah. Keba­nyak­an mereka terjebak dengan rutinitas dan tidak berani men­coba hal-hal baru. Ketika rutinitas yang mereka jalani teran­cam keberlangsungannya, mereka merasa seperti kiamat kecil dalam kehidupannya.
Karena itu, romantika kehidupan yang kita jalani saat ini haruslah kita jadikan sebagai wahana untuk menjadi ham­ba yang bersyukur serta sebagai sarana untuk menuju ke alam ke­abadian yang tidak mengenal kesedihan apalagi rasa takut. Se­sulit apapun kondisi kita janganlah menggadaikan agama dan mengingkari eksistensi Allah. Terlebih lagi menjadi pri­ba­di yang apatis, pesimis, skeptis, kalah sebelum berusaha. Bagi se­tiap umat manusia, situasi dan kondisi apapun yang melekat pa­da dirinya adalah ujian serta cobaan dari Allah.
Mungkin kita pernah mengalami kekecewaan, kegagalan, dan kesedihan. Boleh jadi penyebabnya karena usaha kita be­lum maksimal, atau hal itu merupakan anak tangga menuju pun­cak prestasi dunia akhirat. Karena kekecewaan, kegagalan, dan kesedihan hanyalah proses penemuan jati diri. Nabi Muham­mad tidak pernah menginginkan umatnya menjadi umat yang bodoh, kehidupannya berantakan, pendidikannya terbeng­kalai, dan sebagainya. Percayalah pintu gapura rahmat Allah selalu terbuka lebar bagi hamba-hambanya yang mau terus-menerus memperbaiki kualitas dirinya.
Janganlah kita terpaku pada rutinitas sehari-hari yang tidak mempunyai visi perbaikan hidup ke depan. Dalam Istilah Stephen Covey berlabuh dalam cangkang comfort zone (kawasan aman resiko). Comfort zone memang sebuah wilayah aman resiko, itulah sebabnya seringkali kita ternina bobokan apabila berada pada zona ini. Akibatnya seseorang yang berada dalam cangkang comfort zone menjadi lamban dan bodoh. Dan yang lebih memperihatinkan, mereka tidak lagi bergairah melakukan pembelajaran-pembelajaran untuk mengembangkan diri.
Di dalam sejarah Islam kita mempelajari kisah kejayaan umat Islam pada masa Daulah Abbasiyah. Kejayaan Daulah Abbasiyah sudah tidak diragukan lagi, pada masa merekalah cikal bakal pengetahuan abad modern saat ini. Sayangnya mereka terlena dengan kejayaan yang telah mereka raih dan berlabuh terlalu lama dalam cangkang comfort zone. Sehingga mereka tidak menyadari bahwa keselamatan mereka terancam. Kelengahan itu harus dibayar mahal dengan runtuhnya dinasti Abbasiyah karena tidak mampu membendung serangan dari Khulagu khan. Peradaban Islam yang dibangun puluhan tahun itu hancur seketika. Sangat disayangkan ummat Islam yang dahulu gagah perkasa pada generasi awal tidak diikuti oleh generasi selanjutnya.
Lewat tragedi memilukan itu kita semua dapat bercermin, bahwa kita seyogyanya berani mengambil keputusan untuk keluar dari cangkang comfort zone. Tentu ada harga yang harus dibayar ketika seseorang memutuskan untuk keluar dari zona nyaman. Karena untuk keluar dari cangkang comfort zone diperlukan tekad yang membaja serta keberanian yang kokoh diantaranya; berani melakukan kesalahan dan berani mengambil resiko. Meminjam ungkapan pepatah, there is no success without sacrifice.
Sedia Payung Sebelum Hujan
•    Sebaiknya dari setiap permasalahan dan kesusahan hidup yang di­alami oleh para pendahulu kita, menjadi cermin ba­gi kita dalam merambah lika-liku kehidupan ke depan.
•    Orang yang sukses adalah orang-orang yang selalu mela­ku­kan perbaikan dalam kehidupannya. Karena itulah semua orang yang berpikir menjadi pemenang, ketika terbentur pa­da suatu masalah, mereka tidak mencari-cari sebab di lu­ar diri. Justru mereka mencari jalan keluar yang terbaik agar dapat keluar dari kungkungan masalahnya.
•    Janganlah kita terpaku pada rutinitas sehari-hari yang tidak mem­punyai visi perbaikan hidup hari ini dan esok.
•    Beranilah melakukan kesalahan dan mengambil resiko. Ka­re­na, there is no success without sacrifice.
•    Percayalah pintu gapura rahmat Allah selalu terbuka lebar ba­gi hamba-hambanya yang mau terus-menerus mem­per­bai­ki kualitas dirinya.
     “Jika engkau berada di waktu senja, maka janganlah menunggu tibanya waktu pagi, demikian pula jika engkau berada di waktu pagi, maka janganlah menunggu waktu petang. Pergunakanlah kesempatan di waktu muda, sehat, kuat dan kaya untuk menghadapi masa tua, sakit, lemah dan miskin.” (Abdullah bin Umar)