Umar Ibn al-Khattab; ahli strategi militer dan administrasi


Pada zamannya, berbagai negara ia taklukkan, barang rampasan kian menumpuk, harta kekayaan raja-raja Parsi dan Romawi mengalir dengan derasnya di hadapan tentaranya, namun dia sendiri menunjukkan kemampuan menahan nafsu serakah, sehingga kesederhanaannya tidak pernah ada yang mampu menandingi. Dia berpidato di hadapan rakyatnya dengan pakaian
bertambalkan kulit hewan. Dia mempraktekkan satunya kata dengan
perbuatan. Dia mengawasi para gubernur dan jenderalnya dengan cermat
dan dengan cermat pula menyelidiki perbuatan mereka. Bahkan Khalid bin
Walid yang perkasa pun tidak terkecuali. Dia berlaku adil kepada semua
orang, dan bahkan juga bagi orang non-Muslim. Selama masa
pemerintahannya, disiplin baja diterapkan secara utuh.

Sejarawan Kristen Mesir, Jurji Zaidan

Seorang pemuda yang gagah perkasa berjalan dengan langkah yang mantap mencari Nabi hendak membunuhnya. Ia sangat membenci Nabi, dan agama baru yang dibawanya. Di tengah perjalanan ia bertemu dengan seseorang
yang bernama Naim bin Abdullah yang menanyakan tujuan perjalanannya
tersebut. Kemudian diceritakannya niatnya itu. Dengan mengejek, Naim
mengatakan agar ia lebih baik memperbaiki urusan rumah tangganya
sendiri terlebih dahulu.

            Seketika itu juga pemuda itu kembali ke rumah
dan mendapatkan ipar lelakinya sedang asyik membaca kitab suci
Al-Qur’an. Langsung sang ipar dipukul dengan ganas, pukulan yang tidak
membuat ipar maupun adiknya meninggalkan agama Islam. Pendirian adik
perempuannya yang teguh itu akhirnya justru menentramkan hatinya dan
malahan ia memintanya membaca kembali baris-baris Al-Qur’an. Permintaan
tersebut dipenuhi dengan senang hati. Kandungan arti dan alunan
ayat-ayat Kitabullah ternyata membuat si pemuda itu begitu
terpesonanya, sehingga ia bergegas ke rumah Nabi dan langsung memeluk
agama Islam.
            Begitulah pemuda yang bernama Umar bin Khattab, yang
sebelum masuk Islam dikenal sebagai musuh Islam yang berbahaya. Dengan
rahmat dan hidayah Allah, Islam telah bertambah kekuatannya dengan
masuknya seorang pemuda yang gagah perkasa. Ketiga bersaudara itu
begitu gembiranya, sehingga mereka secara spontan mengumandangkan
Allahu Akbar” (Allah Maha Besar). Gaungnya bergema di pegunungan di
sekitarnya.
            Umar masuk agama Islam pada usia 27 tahun.
Beliau dilahirkan di Makkah, 40 tahun sebelum hijrah. Silsilahnya
berkaitan dengan garis keturunan Nabi pada generasi ke delapan.
Moyangnya memegang jabatan duta besar dan leluhurnya adalah pedagang.
Ia salah satu dari 17 orang Makkah yang terpelajar ketika kenabian
dianugerahkan kepada Muhammad SAW.
            Dengan masuknya Umar ke dalam agama Islam, kekuatan kaum Muslimin makin bertambah tangguh. Ia kemudian menjadi penasehat utama Abu Bakar selama masa pemerintahan dua setengah tahun. Ketika Abu Bakar mangkat, ia dipilih menjadi khalifah Islam yang kedua, jabatan yang diembannya dengan sangat hebat selama sepuluh setengah tahun.
            Umar adalah ahli strategi militer yang besar. Ia mengeluarkan perintah operasi militer secara mendetail. Pernah ketika mengadakan operasi militer untuk menghadapi kejahatan orang-orang Parsi, beliau yang merancang komposisi pasukan Muslim, dan mengeluarkan perintah dengan detailnya. Saat beliau menerima khabar hasil pertempurannya beliau ingin segera menyampaikan berita gembira atas kemenangan tentara kaum Muslimin kepada penduduk, lalu Khalifah Umar berpidato di hadapan penduduk Madinah: “Saudara-saudaraku! Aku bukanlah rajamu yang ingin menjadikan Anda budak. Aku adalah hamba
Allah dan pengabdi hamba-Nya. Kepadaku telah dipercayakan tanggung
jawab yang berat untuk menjalankan pemerintahan khilafah. Adalah
tugasku membuat Anda senang dalam segala hal, dan akan menjadi hari
nahas bagiku jika timbul keinginan barang sekalipun agar Anda
melayaniku. Aku berhasrat mendidik Anda bukan melalui
perintah-perintah, tetapi melalui perbuatan.
            Pada tahun 634 M, pernah terjadi pertempuran dahsyat antara pasukan Islam dan Romawi di dataran Yarmuk. Pihak Romawi mengerahkan 300.000 tentaranya, sedangkan tentara Muslimin hanya 46.000 orang. Walaupun tidak terlatih dan berperlengkapan buruk, pasukan Muslimin yang bertempur dengan gagah berani akhirnya berhasil mengalahkan tentara Romawi. Sekitar 100.000
orang serdadu Romawi tewas sedangkan di pihak Muslimin tidak lebih dari
3000 orang yang tewas dalam pertempuran itu. Ketika Caesar diberitakan
dengan kekalahan di pihaknya, dengan sedih ia berteriak: “Selamat
tinggal Syria,
” dan dia mundur ke Konstantinopel.
            Beberapa prajurit yang melarikan diri dari medan pertempuran Yarmuk, mencari perlindungan di antara dinding-dinding benteng kota Yerusalem. Kota
dijaga oleh garnisun tentara yang kuat dan mereka mampu bertahan cukup
lama. Akhirnya uskup agung Yerusalem mengajak berdamai, tapi menolak
menyerah kecuali langsung kepada Khalifah sendiri. Umar mengabulkan
permohonan itu, menempuh perjalanan di Jabia tanpa pengawalan dan
arak-arakan kebesaran, kecuali ditemani seorang pembantunya. Ketika
Umar tiba di hadapan uskup agung dan para pembantunya, Khalifah
menuntun untanya yang ditunggangi pembantunya
. Para pendeta Kristen
lalu sangat kagum dengan sikap rendah hati Khalifah Islam dan
penghargaannya pada persamaan martabat antara sesama manusia. Uskup
agung dalam kesempatan itu menyerahkan kunci kota suci kepada Khalifah
dan kemudian mereka bersama-sama memasuki kota. Ketika ditawari
bersembahyang di gereja Kebaktian, Umar menolaknya dengan mengatakan:
Kalau saya berbuat demikian, kaum Muslimin di masa depan akan
melanggar perjanjian ini dengan alasan mengikuti contoh saya.

Syarat-syarat perdamaian yang adil ditawarkan kepada orang Kristen.
Sedangkan kepada orang-orang Yahudi, yang membantu orang Muslimin, hak
milik mereka dikembalikan tanpa harus membayar pajak apa pun.
            Penaklukan Syria sudah selesai. Seorang sejarawan terkenal mengatakan: “Syria telah tunduk pada tongkat kekuasaan Khalifah, 700 tahun setelah Pompey
menurunkan tahta raja terakhir Macedonia. Setelah kekalahannya yang
terakhir, orang Romawi mengaku takluk, walaupun mereka masih terus
menyerang daerah-daerah Muslimin. Orang Romawi membangun sebuah
rintangan yang tidak bisa dilalui, antara daerahnya dan daerah orang
Muslim. Mereka juga mengubah sisa tanah luas miliknya di perbatasan
Asia menjadi sebuah padang pasir. Semua kota di jalur itu dihancurkan,
benteng-benteng dibongkar, dan penduduk dipaksa pindah ke wilayah yang
lebih utara. Demikianlah keadaannya apa yang dianggap sebagai perbuatan
orang Arab Muslim yang biadab sesungguhnya hasil kebiadaban Byzantium.

Namun kebijaksanaan bumi hangus yang sembrono itu ternyata tidak dapat
menghalangi gelombang maju pasukan Muslimin. Dipimpin Ayaz yang menjadi
panglima, tentara Muslim melewati Tarsus, dan maju sampai ke pantai
Laut Hitam.
            Menurut sejarawan terkenal, Baladhuri, tentara
Islam seharusnya telah mencapai Dataran Debal di Sind. Tapi, kata
Thabari, Khalifah menghalangi tentaranya maju lebih ke timur dari
Mekran. Suatu penelitian pernah dilakukan untuk menunjukkan
faktor-faktor yang menentukan kemenangan besar operasai militer
Muslimin yang diraih dalam waktu yang begitu singkat. Kita ketahui,
selama pemerintahan khalifah yang kedua, orang Islam memerintah daerah
yang sangat luas. Termasuk di dalamnya Syria, Mesir, Irak, Parsi,
Khuzistan, Armenia, Azerbaijan, Kirman, Khurasan, Mekran, dan sebagian
Baluchistan
. Pernah sekelompok orang Arab yang bersenjata tidak lengkap
dan tidak terlatih berhasil menggulingkan dua kerajaan yang paling kuat
di dunia. Apa yang memotivasikan mereka? Ternyata, ajaran Nabi SAW.
telah menanamkan semangat baru kepada pengikut agama baru itu. Mereka
merasa berjuang hanya demi Allah semata. Kebijaksanaan khalifah Islam
kedua dalam memilih para jenderalnya dan syarat-syarat yang lunak yang
ditawarkan kepada bangsa-bangsa yang ditaklukan telah membantu
terciptanya serangkaian kemenangan bagi kaum Muslimin yang dicapai dalam waktu sangat singkat.
            Bila diteliti kitab sejarah Thabari, dapat diketahui bahwa Umar al-Faruq,
kendati berada ribuan mil dari medan perang, berhasil menuntun
pasukannya dan mengawasi gerakan pasukan musuh. Suatu kelebihan
anugerah Allah yang luar biasa. Dalam menaklukan musuhnya, khalifah
banyak menekankan pada segi moral, dengan menawarkan syarat-syarat yang
lunak, dan memberikan mereka segala macam hak yang bahkan dalam abad
modern ini tidak pernah ditawarkan kepada suatu bangsa yang kalah
perang. Hal ini sangat membantu memenangkan simpati rakyat, dan itu
pada akhirnya membuka jalan bagi konsolidasi administrasi secara
efisien. Ia melarang keras tentaranya membunuh orang yang lemah dan
menodai kuil serta tempat ibadah lainnya. Sekali suatu perjanjian
ditandatangani, ia harus ditaati, yang tersurat maupun yang tersirat.
            Berbeda dengan tindakan penindasan dan kebuasan yang dilakukan Alexander, Caesar, Atilla, Ghengiz Khan, dan Hulagu. Penaklukan model Umar bersifat badani dan rohani. Ketika Alexander menaklukan Sur,
sebuah kota di Syria, dia memerintahkan para jenderalnya melakukan
pembunuhan massal, dan menggantung seribu warga negara terhormat pada
dinding kota. Demikian pula ketika dia menaklukan Astakher, sebuah kota
di Parsi, dia memerintahkan memenggal kepala semua laki-laki. Raja
lalim seperti Ghengiz Khan, Atilla dan Hulagu bahkan lebih ganas lagi.
Tetapi imperium mereka yang luas itu hancur berkeping-keping begitu
sang raja meninggal. Sedangkan penaklukan oleh khalifah Islam kedua
berbeda sifatnya. Kebijaksanaannya yang arif, dan administrasi yang
efisien, membantu mengonsolidasikan kerajaannya sedemikian rupa.
Sehingga sampai masa kini pun, setelah melewati lebih dari 1.400 tahun,
negara-negara yang ditaklukannya masih berada di tangan orang Muslim.
Umar al-Faruk sesungguhnya penakluk terbesar yang pernah dihasilkan
sejarah
.
            Sifat mulia kaum Muslimin umumnya dan Khalifah
khususnya, telah memperkuat kepercayaan kaum non Muslim pada
janji-janji yang diberikan oleh pihak Muslimin. Suatu ketika, Hurmuz,
pemimpin Parsi yang menjadi musuh bebuyutan kaum Muslimin, tertawan di
medan perang dan di bawa menghadap Khalifah di Madinah. Ia sadar
kepalanya pasti akan dipenggal karena dosanya sebagai pembunuh sekian
banyak orang kaum Muslimin. Dia tampaknya merencanakan sesuatu, dan
meminta segelas air. Permohonannya dipenuhi, tapi anehnya ia tidak mau
minum air yang dihidangkan. Dia rupanya merasa akan dibunuh selagi
mereguk minuman, Khalifah meyakinkannya, dia tidak akan dibunuh kecuali
jika Hurmuz meminum air tadi. Hurmuz yang cerdik seketika itu juga
membuang air itu. Ia lalu berkata, karena dia mendapatkan jaminan dari
Khalifah, dia tidak akan minum air itu lagi. Khalifah memegang
janjinya. Hurmuz yang terkesan dengan kejujuran Khalifah, akhirnya
masuk Islam.
            Khalifah Umar pernah berkata, “Kata-kata seorang Muslim biasa sama beratnya dengan ucapan komandannya atau khalifahnya.” Demokrasi sejati seperti ini diajarkan dan dilaksanakan selama kekhalifahan ar-rosyidin hampir tidak ada persamaannya dalam sejarah umat manusia. Islam sebagai agama yang demokratis, seperti digariskan Al-Qur’an, dengan tegas meletakkan dasar kehidupan demokrasi dalam kehidupan Muslimin, dan dengan demikian setiap masalah kenegaraan harus dilaksanakan melalui konsultasi dan perundingan. Nabi SAW. sendiri tidak pernah mengambil keputusan penting tanpa melakukan
konsultasi. Pohon demokrasi dalam Islam yang ditanam Nabi dan
dipelihara oleh Abu Bakar mencapai puncaknya pada jaman Khalifah Umar.
Semasa pemerintahan Umar telah dibentuk dua badan penasehat. Badan
penasehat yang satu merupakan sidang umum yang diundang bersidang bila
negara menghadapi bahaya. Sedang yang satu lagi adalah badan khusus
yang terdiri dari orang-orang yang integritasnya tidak diragukan untuk
diajak membicarakan hal rutin dan penting. Bahkan masalah pengangkatan
dan pemecatan pegawai sipil serta lainnya dapat dibawa ke badan khusus
ini, dan keputusannya dipatuhi.
            Umar hidup seperti orang biasa dan setiap orang bebas menanyakan tindakan-tindakannya. Suatu ketika ia berkata: “Aku tidak berkuasa apa pun terhadap Baitul Mal (harta umum) selain sebagai petugas penjaga milik yatim piatu. Jika aku kaya, aku mengambil uang sedikit sebagai pemenuh kebutuhan sehari-hari. Saudara-saudaraku sekalian! Aku abdi kalian, kalian harus mengawasi dan menanyakan segala tindakanku. Salah satu hal yang harus diingat, uang rakyat tidak boleh dihambur-hamburkan. Aku harus bekerja di atas prinsip kesejahteraan dan kemakmuran rakyat.
            Suatu kali dalam sebuah rapat umum, seseorang berteriak: “O, Umar, takutlah kepada Tuhan.” Para hadirin bermaksud membungkam orang itu, tapi Khalifah mencegahnya sambil berkata: “Jika sikap jujur seperti itu tidak
ditunjukan oleh rakyat, rakyat menjadi tidak ada artinya. Jika kita
tidak mendengarkannya, kita akan seperti mereka.
” Suatu kebebasan
menyampaikan pendapat telah dipraktekan dengan baik.
            Ketika berpidato suatu kali di hadapan para gubernur, Khalifah berkata,
Ingatlah, saya mengangkat Anda bukan untuk memerintah rakyat, tapi
agar Anda melayani mereka. Anda harus memberi contoh dengan tindakan
yang baik sehingga rakyat dapat meneladani Anda.
            Pada saat pengangkatannya, seorang gubernur harus menandatangani pernyataan yang mensyaratkan bahwa Dia harus mengenakan pakaian sederhana, makan roti yang kasar, dan setiap orang yang ingin mengadukan suatu hal bebas
menghadapnya setiap saat. Menurut pengarang buku Futuhul-Buldan, di
masa itu dibuat sebuah daftar barang bergerak dan tidak bergerak begitu
pegawai tinggi yang terpilih diangkat. Daftar itu akan diteliti pada
setiap waktu tertentu, dan penguasa tersebut harus mempertanggung-jawabkan terhadap setiap hartanya yang bertambah dengan sangat mencolok. Pada saat musim haji setiap tahunnya, semua pegawai tinggi harus melapor kepada Khalifah. Menurut penulis buku Kitab ul-Kharaj, setiap orang berhak mengadukan kesalahan pejabat negara, yang tertinggi sekalipun, dan pengaduan itu harus dilayani. Bila terbukti bersalah, pejabat tersebut mendapat ganjaran hukuman.
            Muhammad bin Muslamah Ansari, seorang yang dikenal berintegritas tinggi, diangkat sebagai penyelidik keliling. Dia mengunjungi berbagai negara
dan meneliti pengaduan masyarakat. Sekali waktu, Khalifah menerima
pengaduan bahwa Sa’ad bin Abi Waqqash, gubernur Kufah, telah membangun
sebuah istana. Seketika itu juga Umar memutus Muhammad Ansari untuk
menyaksikan adanya bagian istana yang ternyata menghambat jalan masuk
kepemukiman sebagian penduduk Kufah. Bagian istana yang merugikan
kepentingan umum itu kemudian dibongkar. Kasus pengaduan lainnya
menyebabkan Sa’ad dipecat dari jabatannya.
            Seorang sejarawan Eropa menulis dalam The Encyclopedia of Islam: “Peranan Umar sangatlah besar. Pengaturan warganya yang non-Muslim, pembentukan lembaga yang mendaftar orang-orang yang mendapat hak untuk pensiun tentara (divan), pengadaan pusat-pusat militer (amsar) yang dikemudian
hari berkembang menjadi kota-kota besar Islam, pembentukan kantor kadi
(qazi), semuanya adalah hasil karyanya. Demikian pula seperangkat
peraturan, seperti sembahyang tarawih di bulan Ramadhan, keharusan naik
haji, hukuman bagi pemabuk,.
            Khalifah menaruh perhatian yang sangat besar dalam usaha perbaikan keuangan negara, dengan menempatkannya pada kedudukan yang sehat. Ia membentuk “Diwan” (departemen keuangan) yang dipercayakan menjalankan administrasi pendapatan negara.  Pendapatan persemakmuran berasal dari sumber, Zakat atau pajak yang dikenakan secara bertahap terhadap Muslim yang
berharta. Kharaj atau pajak bumi Jizyah atau pajak perseorangan. Dua
pajak yang disebut terakhir, yang membuat Islam banyak dicerca oleh
sejarawan Barat, sebenarnya pernah berlaku di kerajaan Romawi dan
Sasanid (Parsi). Pajak yang dikenakan pada orang non Muslim jauh lebih
kecil jumlahnya dari pada yang dibebankan pada kaum Muslimin. Khalifah
menetapkan pajak bumi menurut jenis penggunaan tanah yang terkena. Ia
menetapkan 4 dirham untuk satu Jarib gandum. Sejumlah 2 dirham
dikenakan untuk luas tanah yang sama tapi ditanami gersb (gandum
pembuat ragi). Padang rumput dan tanah yang tidak ditanami tidak
dipungut pajak. Menurut sumber-sumber sejarah yang dapat dipercaya,
pendapatan pajak tahunan di Irak berjumlah 860 juta dirham. Jumlah itu
tak pernah terlampaui pada masa setelah wafatnya Umar.
            Ia memperkenalkan reform (penataan) yang luas di lapangan pertanian, hal yang bahkan tidak terdapat di negara-negara berkebudayaan tinggi di
zaman modern ini. Salah satu dari reform itu ialah penghapusan
zamindari (tuan tanah), sehingga pada gilirannya terhapus pula beban
buruk yang mencekik petani penggarap. Ketika orang Romawi menaklukkan
Syria dan Mesir, mereka menyita tanah petani dan membagi-bagikannya
kepada anggota tentara, kaum ningrat, gereja, dan anggota keluarga
kerajaan.
            Sejarawan Perancis mencatat: “Kebijaksanaan liberal orang Arab dalam menentukan pajak dan mengadakan land reform sangat banyak pengaruhnya terhadap berbagai kemenangan mereka di bidang kemiliteran.” Ia membentuk departemen kesejahteraan rakyat, yang mengawasi pekerjaan pembangunan dan melanjutkan rencana-rencana. Sejarawan terkenal Allamah Maqrizi mengatakan, di Mesir saja lebih dari 20.000 pekerja terus-menerus dipekerjakan sepanjang tahun. Sejumlah kanal di bangun di Khuzistan dan Ahwaz selama masa itu. Sebuah kanal bernama “Nahr Amiril Mukminin,” yang menghubungkan Sungai Nil dengan Laut Merah, dibangun untuk menjamin pengangkutan padi secara cepat dari Mesir ke Tanah Suci. Selama masa pemerintahan Umar diadakan pemisahan antara kekuasaan pengadilan dan kekuasaan eksekutif.
            Von Hamer mengatakan, “Dahulu hakim diangkat dan sekarang pun masih diangkat. Hakim ush-Shara ialah penguasa yang ditetapkan berdasarkan
undang-undang, karena undang-undang menguasai seluruh keputusan
pengadilan, dan para gubernur dikuasakan menjalankan keputusan itu.
Dengan demikian dengan usianya yang masih sangat muda, Islam telah
mengumandangkan dalam kata dan perbuatan, pemisahan antara kekuasaan
pengadilan dan kekuasaan eksekutif.
” Pemisahan seperti itu belum lagi
dicapai oleh negara-negara paling maju, sekalipun di zaman modern ini.
            Umar sangat tegas dalam penegakan hukum yang tidak memihak dan tidak pandang bulu. Suatu ketika anaknya sendiri yang bernama Abu Syahma, dilaporkan terbiasa meminum khamar. Khalifah memanggilnya menghadap dan ia sendiri yang mendera anak itu sampai meninggal. Cemeti yang dipakai menghukum Abu Syahma ditancapkan di atas kuburan anak itu.
            Kebesaran Khalifah Umar juga terlihat dalam perlakuannya yang simpatik terhadap warganya yang non Muslim. Ia mengembalikan tanah-tanah yang dirampas oleh pemerintahan jahiliyah kepada yang berhak yang sebagian besar non Muslim. Ia berdamai dengan orang Kristen Elia yang menyerah.
Syarat-syarat perdamaiannya ialah: “Inilah perdamaian yang ditawarkan
Umar, hamba Allah, kepada penduduk Elia. Orang-orang non Muslim
diizinkan tinggal di gereja-gereja dan rumah-rumah ibadah tidak boleh
dihancurkan. Mereka bebas sepenuhnya menjalankan ibadahnya dan tidak
dianiaya dengan cara apa pun.
” Menurut Imam Syafi’i ketika Khalifah
mengetahui seorang Muslim membunuh seorang Kristen, ia mengijinkan ahli
waris almarhum menuntut balas. Akibatnya, si pembunuh dihukum penggal
kepala.
            Khalifah Umar juga mengajak orang non Muslim berkonsultasi tentang sejumlah masalah kenegaraan. Menurut pengarang Kitab al-Kharaj, dalam wasiatnya yang terakhir Umar memerintahkan kaum Muslimin menepati sejumlah jaminan yang pernah diberikan kepada non Muslim, melindungi harta dan jiwanya, dengan taruhan jiwa sekalipun. Umar bahkan memaafkan penghianatan mereka, yang dalam sebuah pemerintahan beradab di zaman sekarang pun tidak akan mentolerirnya. Orang Kristen dan Yahudi di Hems bahkan sampai berdoa agar orang Muslimin kembali ke negeri mereka. Khalifah memang membebankan jizyah, yaitu pajak perlindungan bagi kaum non Muslim, tapi pajak itu tidak
dikenakan bagi orang non Muslim, yang bergabung dengan tentara
Muslimin.
            Khalifah sangat memperhatikan rakyatnya, sehingga pada suatu ketika secara diam-diam ia turun berkeliling di malam hari untuk menyaksikan langsung keadaan rakyatnya. Pada suatu malam, ketika sedang berkeliling di luar kota Madinah, di sebuah rumah dilihatnya seorang wanita sedang memasak sesuatu, sedang dua anak perempuan duduk di sampingnya berteriak-teriak minta makan. Perempuan itu, ketika menjawab Khalifah, menjelaskan bahwa anak-anaknya lapar, sedangkan di ceret yang ia jerang tidak ada apa-apa selain air dan
beberapa buah batu. Itulah caranya ia menenangkan anak-anaknya agar
mereka percaya bahwa makanan sedang disiapkan.

Tanpa menunjukan identitasnya, Khalifah bergegas kembali ke Madinah yang berjarak tiga mil. Ia kembali dengan memikul sekarung terigu, memasakkannya sendiri, dan baru merasa puas setelah melihat anak-anak yang malang itu sudah merasa kenyang. Keesokan harinya, ia berkunjung kembali, dan sambil meminta maaf kepada wanita itu ia meninggalkan sejumlah uang sebagai
sedekah kepadanya. Khalifah yang agung itu hidup dengan cara yang sangat sederhana. Tingkat kehidupannya tidak lebih tinggi dari kehidupan orang biasa.